Selamat pagi kawan-kawan jam 08:12 ketika saya menjemur pakaian di
pagi minggu yang cerah. Tidak ada yang aneh di halaman rumah. Namun,
pandangan mata saya tiba-tiba jatuh kepada gerombolan anak kecil.
Mungkin umur mereka kira-kira 4-5 tahun, berjumlah 6 bocah unyu-unyu
semua laki-laki dan terlihat belum mandi. Aku perhatikan satu demi satu,
bocah pertama memakai baju biru kuning terlihat kucel, bocah kedua
memakai baju kuning terang namun sayang kucel sekali wajahnya, bocah
ketiga memakai baju merah rambut agak gondrong, bocah keempat memakain
kaos dalam dan celana pendek kepala botak, bocah kelima dan keenam
memakai baju hitam dan oren pudar . Semua bocah terlihat senang sekali
saat bocah ketiga dan keenam membawa sebilah bambu disini dinamakan
sengget kedua bocah itu lalu mengerumuni phon jambu mede. Kedua bocah
itu disebelah kanan pohon menyengget buah jambu mede dengan semangat,
sisa nya disebelah kiri. Tiba-tiba buah belum jatuh ketanah bambu yang
terlihat berat oleng lalu menimpa bocah pertama, dan tuukk kena
kepalanya. Aku tertawa. Beginilah percakapan mereka.
Bocah ketiga: Maaf ya, bli sengaja, aja nangis sih.
Bocah keenam: iya maaf isun bli sengaja.
Bocah-bocah: iya wis-wis akuran ya, agian jukut jambu maning.
Bocah
pertama yang terkena bambu molosi dan mundur selangkah memegang
kepalanya. Sakit sekali pasti, bambu itu tidak seimbang dengan tubuh
mungil bocah-bocah itu. Lalu dengan niat yang awal mau main bersama dan
ingin mengambil jambu mede tersebut. Bocah pertama tidak melanjutkan
tangisannya. Bocah-bocah yang lain pun bersemangat menyengget jambu
mede. Lalu tragedi lagi menimpa salah satu bocah itu, padahal saya lihat
sedang semangat-semangatnya menyengget jambu mede. Karena pohon itu
menyimpan segerombolan semut, dan tepluk jatuhlah beberapa semut menimpa
mata bocah keenam yang memakain baju oren pudar. Menahan rasa tangis
dan perih bocah itu lalu jongkong dan tangannya memegang matanya, lalu
dikucek-kucek. Alhasil, bocah-bocah yang lain menghiburnya.
Bocah ketiga: wis aja nangis ya, kan bareng-bareng dolan.
Sambil mengelus kepala bocah ketiga itu.
Bocah keenam: lara huhuhuhuu.
Belum bisa melepaskan tangannya dari mata yang terlihat sudah merah.
Tiba-tiba
mereka menghilang saat aku kembali membawa sekeranjang pakaian lagi.
Dan ternyata telah pergi terlihat diujung jalan sambil bercanda ria.
^^27 Oktober 2013 cerpen ini dibuat sesuai dengan kisah nyata senyata-nyata nya :D hehehe

No comments:
Post a Comment