Saturday, 3 September 2016

CERPEN - Enam Bocah Jambu Mede



Selamat pagi kawan-kawan jam 08:12 ketika saya menjemur pakaian di pagi minggu yang cerah. Tidak ada yang aneh di halaman rumah. Namun, pandangan mata saya tiba-tiba jatuh kepada gerombolan anak kecil. Mungkin umur mereka kira-kira 4-5 tahun, berjumlah 6 bocah unyu-unyu semua laki-laki dan terlihat belum mandi. Aku perhatikan satu demi satu, bocah pertama memakai baju biru kuning terlihat kucel, bocah kedua memakai baju kuning terang namun sayang kucel sekali wajahnya, bocah ketiga memakai baju merah rambut agak gondrong, bocah keempat memakain kaos dalam dan celana pendek kepala botak, bocah kelima dan keenam memakai baju hitam dan oren pudar . Semua bocah terlihat senang sekali saat bocah ketiga dan keenam membawa sebilah bambu disini dinamakan sengget kedua bocah itu lalu mengerumuni phon jambu mede. Kedua bocah itu disebelah kanan pohon menyengget buah jambu mede dengan semangat, sisa nya disebelah kiri. Tiba-tiba buah belum jatuh ketanah bambu yang terlihat berat oleng lalu menimpa bocah pertama, dan tuukk kena kepalanya. Aku tertawa. Beginilah percakapan mereka.

Bocah ketiga: Maaf ya, bli sengaja, aja nangis sih.
Bocah keenam: iya maaf isun bli sengaja.
Bocah-bocah: iya wis-wis akuran ya, agian jukut jambu maning.

Bocah pertama yang terkena bambu molosi dan mundur selangkah memegang kepalanya. Sakit sekali pasti, bambu itu tidak seimbang dengan tubuh mungil bocah-bocah itu. Lalu dengan niat yang awal mau main bersama dan ingin mengambil jambu mede tersebut. Bocah pertama tidak melanjutkan tangisannya. Bocah-bocah yang lain pun bersemangat menyengget jambu mede. Lalu tragedi lagi menimpa salah satu bocah itu, padahal saya lihat sedang semangat-semangatnya menyengget jambu mede. Karena pohon itu menyimpan segerombolan semut, dan tepluk jatuhlah beberapa semut menimpa mata bocah keenam yang memakain baju oren pudar. Menahan rasa tangis dan perih bocah itu lalu jongkong dan tangannya memegang matanya, lalu dikucek-kucek. Alhasil, bocah-bocah yang lain menghiburnya.

Bocah ketiga: wis aja nangis ya, kan bareng-bareng dolan.
Sambil mengelus kepala bocah ketiga itu.
Bocah keenam: lara huhuhuhuu.
Belum bisa melepaskan tangannya dari mata yang terlihat sudah merah.
Tiba-tiba mereka menghilang saat aku kembali membawa sekeranjang pakaian lagi. Dan ternyata telah pergi terlihat diujung jalan sambil bercanda ria.


^^27 Oktober 2013 cerpen ini dibuat sesuai dengan kisah nyata senyata-nyata nya :D hehehe

No comments:

Post a Comment