Saturday, 3 September 2016

CERPEN - DIA


 
Aku lebih memilih untuk menjadi “Jika”,
Bila harus berhadapan dengan “Seandainya”.
Tunggu sejenak hujan mengukir pelangi
Itu lah jalan untuk menghubungkan kita.
Disini kita bertemu kembali

Tiada yang tahu namanya kecuali aku dan Deswi sahabatku. Dia yang aku suka sejak pertama kali aku injakkan kaki ini di pelataran kampus ku. Terima kasih kepada Tuhan. Di sini kita dipertemukan kembali.
*********************
Senin pagi berirama jelas terdengar kicau burung nuri milik tetangga yang centil, sesekali ku hirup udara segar dengan terpejam mata. Pagi ini begitu menyejukkan, setelah shalat Subuh dan mandi aku bergegas siapkan diri untuk berangkat kuliah. Berharap awal kuliah ini aku mampu tersenyum lepas, dia yang pergi tanpa sepatah kata membuat aku kesakitan. Lupakan yang membuat hari ku suram karena masih banyak teman-temanku yang selalu sayang dan menghiburku. 

Rabu, 07-Juni-2014 

Hujan sore ini mengalir sangat deras, tiba-tiba aku teringat seminggu yang lalu dimana aku berlatih menulis artikel sampai jari-jemariku hampir putus asa. Disaat itu aku berlatih mencari informasi untuh bahan pembuatan artikel. Ada seseorang yang sampai saat ini aku kagumi, bukan karena parasnya yang menawan namun karena ketika berjalan dia selalu tersenyum, yang sangat ku kagumi dia begitu ramah kepada siapapun. Banyak yang menyenanginya. Termasuk aku. 

Setiap kali berkesempatan untuk berpapasan dengannya, terlihat jelas garis senyum manisnya. Aku sempat terdiam dan dia pun berlalu tanpa tahu kalau aku sangat menyukainya. Pukul 10 aku pulang kuliah dan tanpa sengaja menabrak motor diparkiran kampus. Rasanya aku ingin menghilang secepat kilat. Karena motor itu miliknya yang kebetulan sedang bersiap-siap ingin pulang. Dia tampak kaget, tanpa diduga dia pun berkata, “Hati-hati ya, sakit enggak?” seketika aku cepat membalas bahwa aku tidak apa-apa dan berterimakasih kepadanya. Hari ini aku sangat senang mendengar suaranya yang lembut menyentuh hatiku. 

Beberapa hari ini aku tidak kuliah karena sedang sakit. Paru-paru ku kambuh lagi dan harus istirahat dirumah sementara waktu agar cepat pulih kembali. Rasanya rindu sekali jika sehari tidak melihatnya. Tuhan memang baik telah mendekatkan aku dengannya dengan garis pertemanan.
Aku pun telah mengetahui dia telah memliki kekasih. Ya mungkin rasa yang aku miliki hanyalah sebatas mengagumi tanpa ada niatan untuk memiliki. Dengan mendengar dan melihatnya saja aku sudah tidak sabar untuk berteriak senang.
Suatu ketika aku bertemu dia di toko buku bernama Citra Surya. Percakapan yang tidak terduga pun terjalin, aku teramat senang dan bahagia saat itu.
“Hai, ketemu Rara lagi” dia menyodorkan buku yang aku cari tanpa aku duga dia tahu apa yang sedang aku cari.
“Eh iya nih, kamu tahu aku nyari buku ini?” lumayan bergetar nada bicaraku, mungkin karena aku kaget.
“Iya, aku tadi perhatikan, kamu bingung nyari buku, mungkin ini buku yang kamu maksud” dia tersenyum manis padaku.

Kami berbincang-bincang membicarakan seorang motivator muda bernama Hartadinata Harianto dan pembalap muda berbakat Rio Haryanto. Ternyata dia menyukai pemuda-pemuda berprestasi. Untungnya, aku sempat menawarkan buku motivator kepadanya semoga saja bermanfaat. Semenjak pertemuan yang teduh itu, kita semakin dekat dengan sedikit bercanda saat berpapasan di jalan. Rasa suka itu memang sangat menyebalkan jika terus dipendam. Namun, aku memilih untuk diam dan merahasiakan rasa ini. Kami tidak pernah banyak bicara, namun aku yakin hati kita ada rasa. Melihatnya saja sudah menghasilkan berderet-deret puisi ilegal yang tercipta secara mengagetkan. Hahaha... . 

**************Kampus***************
Jum’at, 11- Juli-2014 
 
“Rara, tunggu aku dong, kau berjalan cepat sekali”. Dialah Deswi sahabat karibku berasal dari Bangka Belitung logat berbicaranya sering membuatku tertawa. Kami pun berjalan bersama dengan santai dan penuh pesona. Siapapun yang melihat akan terpana. Meskipun sangat sering sekali aku dicap sebagai cewek periang namun cuman Deswi lah yang mengerti betapa aku galau bukan kepalang memikirkan pujaan hati tak tau dimana. Hahaah.... .
Setiap kelas yang dilewati olehku selalu berharap ada dia yang sedang duduk menunggu teman-temannya datang. Aku menyukai lelaki yang telah memasangkan senyum manis dan sangat manis. Terlihat berlebihan tapi memang begini, hihiiiihiii. 

“Des, kamu tau ga? Semenjak kakak nya datang ke kampus, dia jarang terlihat di sini, aku merasa kehilangannya”. Dan Deswi pun menjelaskan kenapa dia jarang terlihat di kampus, bahkan untuk sekedar melihatnya saja sekarang takan bisa lagi aku merasa sangat kehilangan. Dan benar saja setelah kepergiannya pulang ke kampung halamannya aku belajar untuk merelakan yang bukan hakku saat itu.
Aku mencoba menepis bayang-bayang wajah tampannya dengan mengingat kepada dunia Balap yang memang benar ini lah yang membuatku semakin semangat dan percaya bahwa hidup adalah perjuangan, tanpa perjuangan hidup takan segurih mirong buatan ibu ku, hhahaha… 

Namanya Rio Haryanto dialah pembalap muda. Sejak 4 tahun terakhir aku menjadi anggota komunitas Sahabat Rio jika di singkat menjadi SR. Aku memiliki banyak kenalan dari berbagai pelosok negeri hijau ini, dari Aceh hingga Sorong. 

Deswi mengajak ku untuk pergi ke toko buku Citra Surya yang baru mengalami renovasi besar-besaran. Hahaha! Meskipun cuman mengecat ulang temboknya sudah terlihat baru kembali. Kami membeli buku Psikolinguistik dan Apresiasi Puisi. Kami tidak cepat pulang karena aku ingin mencari buku Kiky bergambar idolaku. Sayang sekali setiap toko aku cari namun nihil hasilnya. 

Pukul tiga sore aku dan Deswi pulang dan kami berpisah di perempatan Rajawali. Setiba aku di rumah, aku membuka akun facebook dan twitter-ku. Dan ternyata ada pemberitahuan dari grup SR bahwa Rio sedang ada di Solo dimana ia tinggal. Aku merasa senang walau belum pernah bertemu sekali pun dengannya. Dalam setahun Rio bersama perusahaan Pertamina dan Kiky mengadakan M&G diberbagai kota besar di Indonesia seperti Medan, Padang, Solo dan Jakarta. 

Pernah sekali aku mendapatkan kesempatan untuk bertemu dengan Rio di acara M&G di Jakarta, daerah Senayan. Namun nihil! Tanpa ijin orang tua aku tak dapat pergi seleluasa mungkin. Karena aku lah orang yang sangat patuh dengan perintah orang tua ku. Hal tersebut bukan menjadikan ku murung dan tak bergairah, aku selalu mencari kabar dan meminta sahabat rio untuk menceritakan bagaimana keseruan saat M&G. 

Tiba-tiba aku merasa sangat merindukan dia. Berpuluh-puluh puisi tiba-tiba tercipta dengan cepat seakan-akan bolpoin dan buku berjalan begitu cepat. Hape ku berdering nyaring, entah mengapa tiba-tiba perasaanku membuncah ketika pesan Deswi terlihat dilayar hape ku. Dugaanku benar adanya.

Deswi: raa.. dia balik lagi ke sini, barusan ada mobil yang berhenti di samping rumah gue. Ternyata itu dia yang bakalan nempatin rumah nya pak Robet yang seminggu lalu meninggal.
Rara: yang bener kamu Des???? Aku rindu banget udah 2 bulan ga ketemu dia. Rasanya mau banget ke rumah kamu Des
Deswi: cepet yah kesini. Aku tunggu sayankkk, dandan yang rapih. Ok!!

Pukul 4 sore ini aku bergegas menyusuri jalan. Aku tidak menemukan tumpangan. Dan terpaksa harus berlari tanpa harus merusak penampilanku. Dan! Deg-deg deg-deg deg-deg. Jantungku ah! Rupanya sudah gugup duluan padahal aku baru melihat pekarangan rumah Deswi. Pandangku terjatuh pada sosok lelaki yang melambaikan tangan serta senyumnya. Aku lemas, seakan ingin pingsan. Mungkin karena motivasi dari Rio aku setegar ini, dan karena dia pula aku bisa bertahan. “Hay”, tanpa komando kita bersama-sama saling menyapa. Dia! Kita bertemu lagi.
 
 
 
^^ Ini merupakan ilustrasi campur aduk antara kenyataan dan hayalan. Dibuat pada tanggal 22 Maret 2014
 
IG & TWITTER : @ratusukasuka

No comments:

Post a Comment