Thursday, 30 April 2015

BAB III LANDASAN TEORI, KERANGKA BERFIKIR DAN PENGAJUAN HIPOTESIS




A.    Pengertian Teori
Langkah selanjurtnya dalam proses penelitian kuantitatif adalah mencari teori-teori, konsep-konsep dan generalisasi-generalisasi hasil penelitian yang dapat dijadikan sebagai landasan teoritis untuk pelaksanaan penelitian (Sumadi Suryabrata, 1990). Adanya landasan teoritis ini merupakan ciri bahwa penelitian itu merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data.
Kerlinger (1978) mengemukakan bahwa teori adalah seperangkat konstruk (konsep), definisi, dan proposisi yang berfungsi untuk melihat fenomena secara statistik, melalui spesifikasi hubungan antar variabel, sehingga dapat berguna untuk menjelaskan dan meramalkan fenomena.  Wiliam Wiersma (1986) menyatakan bahwateori adalah generalisasi atau kumpulan generalisasi yang dapat digunakan untuk menjelaskan berbagai fenomena secara sisitematik.
Sitirahayu Haditono (1999), menyatakan bahwa suatu teori akan memperoleh arti yang penting, bila ia lebih banyak dapatt melukiskan, menerangkan, dan meramalkangejala yang ada. Markk 1963, dalam (Sitirahayu Haditono, 1999), membedakan adanya tiga macam teori. Ketiga teori yang dimaksud ini berhubungan dengan data empiris. Dengan demikian dapat dibedakan antara lain:
1.      Teori dedukatif: memberikan keterangan yang dimulai dari satu perkiraan atau pikiran spekulatif tertentu ke arah data akan diterangkan.
2.      Teori induktif: cara menerangan adalah dari data kearah teori.
3.      Teori fungsional: di sini nampak suatu interaksi pengaruh antara data dan perkiraan teoritis, yaitu data mempengaruhi pembentukan teori dan pembentukan teori kembali mempengaruhi data.
Berdasarkan tiga pandangan diatas dapat disimpulakan bahwa teori dapat dipandang:
1.      Teori menunjuk pada sekelompok hukum yang tersusun secara logis. Hukum-hukum ini biasanya sifat hubungan dedukatif. Suatu hukum menunjukkan suatu hubungan variabel-variabel empiris yang bersifat ajeg dan dapat diramal sebelumnya.
2.      Suatu teori juga dapat merupakan suatu rangkuman tertulis mengenai suatu kelompok hukum yang diperoleh secara empiris dalam suatu bidang tertentu. Disini orang mulai dari data yang diperoleh dan dari data yang diperoleh itu datang suatu konsep yang teoritis (indukatif).
3.      Suatu teori juga dapat menunjuk pada suatu cara menerangkan yang menggeneralisasi. Disini biasanya terdapat hubungan yang fungsional antara data dan pendapat yang teoritis.
Dapat disimpukan teori adalah suatu konseptualisasi yang umum. Konseptualisasi atau sistem pengertian ini diperoleh melalui, jalan yang sistematis. Suatu teori harus dapat diuji kebenarannya, bila tidak, dia bukan suatu teori.
B.     Tingkatan dan Fokus Teori
Numan (2003) mengemukakan tingkatan teori menjadi tiga yaitu, micro, meso, dan macro. Lalu fokus teori dibedakan menjadi tiga yaitu teori subtantif, teori formal, dan midle range theory.
Teori yang digunakan untuk perumusan hipotesis yang akan diuji melalui pengumpulan data adalah teori subtantif, karena teori ini lebih fokus berlaku untuk objek yang akan diteliti.
C.     Kegunaan Teori Dalam Penelitian
Semua penelitian bersifat ilmiah, oleh karena itu semua penelitian harus berbekal teori, dalam penelitian kuantitatif, teori yang digunakan harus jelas, karena teori di isini akan berfungsi untuk memperjelas masalah yang diteliti, sebagai dasar untuk merumuskan hipotesis, dan sebagai referensi untuk menyusun instrumen penelitian. Oleh karena itu landasan teori proposal penelitian kuantitatif dan harus sudah jelas teori apa yang aka dipakai.
Dalam kaitannya dengan kegiatan penelitian, maka fungsi teori yang pertama digunakan untuk memperjelas dan mempertajam ruang lingkup, atau konstruk variabel yang akan diteliti. Fungsi teori kedua (prediksi dan pemandu untuk menemukan fakta) adalah untuk merumuskan hipotesisdan menyususn instrumen penelitian, karena pada dasarnya hipotesis merupakan pernyataan yang bersifat prediktif. Ketiga (kontrol) digunakan mencandra dan membahas hasil penelitian, sehingga selanjutnya digunakan untuk memberikan saran dalam upaya pemecahan masalah.
D.    Deskripsi Teori
Merupakan uraian sistematis tentang teori (dan bukan sekedar pendapat pakar atau penulis buku) dan hasil-hasil penelitian yang relevan dengan variabel. Semakin banyak variabel yang diteliti, maka akan semakin banyak teori yang perlu dikemukakan.
Deskripsi teori paling tidak berisi tentang penjelasan terhadap bvariabel-variabel yang diteliti, melalui pendefinisian, dan uraian yang lengkap dan mendalam dari berbagai referensi, sehingga ruang lingkup, kedudukan dan prediksi terhadap hubungan antar variabel yang akan diteliti menjadi lebih jelas dan terarah.
Teori-teori yang dideskripsikan dalam proposal maupun laporan penelitian dapat digunakan sebagai indikator apakah penelitian penguasai teori dan konteks yang diteliti. Langkah-langkah untuk melakukan pendeskripsian teori:
1.      Tetapkan nama variabel yang diteliti, dan jumlah variabelnya.
2.      Cari sumber-sumber bacaan yang sebanyak-banyaknya dan relevan denagn setiap variabel yang diteliti.
3.      Lihat daftar isi setiap buku, dan pilih topik yang relevan dengan setiap variabel yang akan diteliti.
4.      Cari devinisi setiap variabel yang akan diteliti pada setiap sumber bacaan, bandingkan antara satu sumber dengan sumber yang lain, dan pilih definisi yang sesuai dengan penelitian yang akan dilakukan.
5.      Baca seluruh isi topik buku yang esuai dengan variabel yang akan diteliti, lakukan analisa, renungkan, dan buatlah rumusan dengan bahasa sendriri tentang setiap sumber data yang dibaca.
6.      Deskripsikan teori-teori yang telah dibaca dari sumber ke dalam bentuk tulisan bahasa sndiri.
E.     Kerangka Berfikir
Uma Sekaran dalam bukunya Business Research (1992) mengemukakan bahwa, kerangka berfikir merupakan konseptual tentang bagaimana teori hubungan dengan brbagai faktor yang telah diidentifikasi sebagai masalah yang penting.
 Kerangka berfikir yang baiak alan menjelaskan secara teoritis peraturan antara variabel yang akan diteliti. Jadi secara teoritis perlu dijelaskan hubungan antara variabel independen dan dependen. Bila dalam penelitian ada variabel moderator dan intervening, maka juga perlu dijelaskan, mengapa variabel itu ikut dilbatkan dalam penelitian.
Seorang peneliti harus menguasai teori-teori ilmah sebagai daras bagi argumentasi dalam menyusun kerangka pemikiran yang membuahkan hipotesisi. Kerangka pemikiran ini merupakan penjelasan sementara terhadap gejala-gejala yang menjadi obyek permasalahan (Surasumantri, 1986).
Rumusan hipotesis:
1.      Menetapkan variavel yang diteliti
2.      Membaca buku dan hasil penelitian (HP)
3.      Deskripsi teori dan hasil penelitian (HP)
4.       Analisis kritis terhadap teori dan hasil penelitian
5.      Analisis komparatif terhadap teori dan hasil penelitian
6.      Sintesa kesimpulan
7.      Kerangka berfikir
8.      Hipotesis

F.      Hipoteis
Perumusan hipotesis penelitian merupakan langkah ketiga daam penelitian, setelah peneliti mengemukakan landasan teori dan kerangka berfikir. Perlu diketahui bahwa tidak setiap penelitian harus merumuskan hipotesis. Hipoteteis merupakan jawaban semenara terhadap rumusan masalah penelitian, di mana rumusan masalah penelitian telah dinyatakan dalam bentuk kalimat pertanyaan. Dikatana sementara, karena jaaban yang diberikan baru didasarkan pada teori yang relevan, belum didasarkan pada fakta-fakta empiris yang diperoleh melalui pengumpulan data. Jadi, hipotesis juga dapat dinyatakan sebagai jawaban teoritis terhadap rumusan masalah penelitian, belum jawaban yang empiris.
1.      Bentuk-bentuk Hipotesis
a.       Hipotesis deskriptif, merupakan jawaban sementara terhadap masalah deskriptif, yaitu yang berkenan dengan variabel mandiri.
b.      Hipotesisi komparatif, merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah komparatif. Pada rumusan ini variabelnya sama tetapi populasi atau sampelnya yang berbeda, atau keadaan terjadi pada waktu yang berbeda.
c.       Hipotetis assosiatif, merupakan jawaban sementara terhadap sumusan masalah assosiatif, yaitu yang menanyakan hubungan antara dua variabel atau lebih.

2.      Paradigma Penelitian, Rumusan Masalah dan hipotesis
Paradigma penelitian, peneliti dapat menggunakan sebagai panduan untuk merumuskan masalah, dan hipotesis penelitiannya, yang selanjutnya dapat digunakan untuk panduan dalam pengumpulan data dan analisis.
3.      Karakteristik Hipoesis Yang Baik
a.       Merupakan dugaan terhadap keadaan variabel mandiri, perbandingan keadaan variabel pada berbagai sampel, dan merupakan dugaan tentang hubungan antara dua variabel lebih.
b.      Dinyatakan dalam kalimat yang jelas, sehingga tidak menimbulkan berbagai penafsiran.
c.       C. Dapat diuji dengan data yang dikumpulkan dengan metode-metode ilmiah.

No comments:

Post a Comment