A.
Pengertian Teori
Langkah
selanjurtnya dalam proses penelitian kuantitatif adalah mencari teori-teori,
konsep-konsep dan generalisasi-generalisasi hasil penelitian yang dapat
dijadikan sebagai landasan teoritis untuk pelaksanaan penelitian (Sumadi
Suryabrata, 1990). Adanya landasan teoritis ini merupakan ciri bahwa penelitian
itu merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data.
Kerlinger
(1978) mengemukakan bahwa teori adalah seperangkat konstruk (konsep), definisi,
dan proposisi yang berfungsi untuk melihat fenomena secara statistik, melalui
spesifikasi hubungan antar variabel, sehingga dapat berguna untuk menjelaskan
dan meramalkan fenomena. Wiliam Wiersma
(1986) menyatakan bahwateori adalah generalisasi atau kumpulan generalisasi
yang dapat digunakan untuk menjelaskan berbagai fenomena secara sisitematik.
Sitirahayu
Haditono (1999), menyatakan bahwa suatu teori akan memperoleh arti yang
penting, bila ia lebih banyak dapatt melukiskan, menerangkan, dan
meramalkangejala yang ada. Markk 1963, dalam (Sitirahayu Haditono, 1999), membedakan
adanya tiga macam teori. Ketiga teori yang dimaksud ini berhubungan dengan data
empiris. Dengan demikian dapat dibedakan antara lain:
1.
Teori dedukatif:
memberikan keterangan yang dimulai dari satu perkiraan atau pikiran spekulatif
tertentu ke arah data akan diterangkan.
2.
Teori induktif: cara
menerangan adalah dari data kearah teori.
3.
Teori
fungsional: di sini nampak suatu interaksi pengaruh antara data dan perkiraan
teoritis, yaitu data mempengaruhi pembentukan teori dan pembentukan teori
kembali mempengaruhi data.
Berdasarkan
tiga pandangan diatas dapat disimpulakan bahwa teori dapat dipandang:
1.
Teori menunjuk
pada sekelompok hukum yang tersusun secara logis. Hukum-hukum ini biasanya
sifat hubungan dedukatif. Suatu hukum menunjukkan suatu hubungan variabel-variabel
empiris yang bersifat ajeg dan dapat diramal sebelumnya.
2.
Suatu teori juga
dapat merupakan suatu rangkuman tertulis mengenai suatu kelompok hukum yang
diperoleh secara empiris dalam suatu bidang tertentu. Disini orang mulai dari
data yang diperoleh dan dari data yang diperoleh itu datang suatu konsep yang
teoritis (indukatif).
3.
Suatu teori juga
dapat menunjuk pada suatu cara menerangkan yang menggeneralisasi. Disini
biasanya terdapat hubungan yang fungsional antara data dan pendapat yang teoritis.
Dapat
disimpukan teori adalah suatu konseptualisasi yang umum. Konseptualisasi atau
sistem pengertian ini diperoleh melalui, jalan yang sistematis. Suatu teori
harus dapat diuji kebenarannya, bila tidak, dia bukan suatu teori.
B.
Tingkatan dan
Fokus Teori
Numan
(2003) mengemukakan tingkatan teori menjadi tiga yaitu, micro, meso, dan macro. Lalu
fokus teori dibedakan menjadi tiga yaitu teori subtantif, teori formal, dan midle range theory.
Teori
yang digunakan untuk perumusan hipotesis yang akan diuji melalui pengumpulan
data adalah teori subtantif, karena teori ini lebih fokus berlaku untuk objek
yang akan diteliti.
C.
Kegunaan Teori
Dalam Penelitian
Semua penelitian bersifat ilmiah, oleh karena itu
semua penelitian harus berbekal teori, dalam penelitian kuantitatif, teori yang
digunakan harus jelas, karena teori di isini akan berfungsi untuk memperjelas
masalah yang diteliti, sebagai dasar untuk merumuskan hipotesis, dan sebagai
referensi untuk menyusun instrumen penelitian. Oleh karena itu landasan teori
proposal penelitian kuantitatif dan harus sudah jelas teori apa yang aka
dipakai.
Dalam kaitannya dengan kegiatan penelitian, maka
fungsi teori yang pertama digunakan untuk memperjelas dan mempertajam ruang
lingkup, atau konstruk variabel yang akan diteliti. Fungsi teori kedua
(prediksi dan pemandu untuk menemukan fakta) adalah untuk merumuskan
hipotesisdan menyususn instrumen penelitian, karena pada dasarnya hipotesis
merupakan pernyataan yang bersifat prediktif. Ketiga (kontrol) digunakan
mencandra dan membahas hasil penelitian, sehingga selanjutnya digunakan untuk
memberikan saran dalam upaya pemecahan masalah.
D. Deskripsi Teori
Merupakan uraian sistematis tentang teori (dan bukan
sekedar pendapat pakar atau penulis buku) dan hasil-hasil penelitian yang
relevan dengan variabel. Semakin banyak variabel yang diteliti, maka akan
semakin banyak teori yang perlu dikemukakan.
Deskripsi teori paling tidak berisi tentang
penjelasan terhadap bvariabel-variabel yang diteliti, melalui pendefinisian,
dan uraian yang lengkap dan mendalam dari berbagai referensi, sehingga ruang
lingkup, kedudukan dan prediksi terhadap hubungan antar variabel yang akan
diteliti menjadi lebih jelas dan terarah.
Teori-teori yang dideskripsikan dalam proposal
maupun laporan penelitian dapat digunakan sebagai indikator apakah penelitian
penguasai teori dan konteks yang diteliti. Langkah-langkah untuk melakukan
pendeskripsian teori:
1. Tetapkan nama variabel yang diteliti, dan jumlah
variabelnya.
2. Cari sumber-sumber bacaan yang sebanyak-banyaknya
dan relevan denagn setiap variabel yang diteliti.
3. Lihat daftar isi setiap buku, dan pilih topik yang
relevan dengan setiap variabel yang akan diteliti.
4. Cari devinisi setiap variabel yang akan diteliti
pada setiap sumber bacaan, bandingkan antara satu sumber dengan sumber yang
lain, dan pilih definisi yang sesuai dengan penelitian yang akan dilakukan.
5. Baca seluruh isi topik buku yang esuai dengan
variabel yang akan diteliti, lakukan analisa, renungkan, dan buatlah rumusan
dengan bahasa sendriri tentang setiap sumber data yang dibaca.
6. Deskripsikan teori-teori yang telah dibaca dari
sumber ke dalam bentuk tulisan bahasa sndiri.
E. Kerangka Berfikir
Uma Sekaran dalam bukunya Business Research (1992) mengemukakan bahwa, kerangka berfikir
merupakan konseptual tentang bagaimana teori hubungan dengan brbagai faktor
yang telah diidentifikasi sebagai masalah yang penting.
Kerangka
berfikir yang baiak alan menjelaskan secara teoritis peraturan antara variabel
yang akan diteliti. Jadi secara teoritis perlu dijelaskan hubungan antara
variabel independen dan dependen. Bila dalam penelitian ada variabel moderator
dan intervening, maka juga perlu dijelaskan, mengapa variabel itu ikut dilbatkan
dalam penelitian.
Seorang peneliti harus menguasai teori-teori ilmah
sebagai daras bagi argumentasi dalam menyusun kerangka pemikiran yang
membuahkan hipotesisi. Kerangka pemikiran ini merupakan penjelasan sementara
terhadap gejala-gejala yang menjadi obyek permasalahan (Surasumantri, 1986).
Rumusan hipotesis:
1. Menetapkan variavel yang diteliti
2. Membaca buku dan hasil penelitian (HP)
3. Deskripsi teori dan hasil penelitian (HP)
4. Analisis
kritis terhadap teori dan hasil penelitian
5. Analisis komparatif terhadap teori dan hasil
penelitian
6. Sintesa kesimpulan
7. Kerangka berfikir
8. Hipotesis
F. Hipoteis
Perumusan hipotesis penelitian merupakan langkah
ketiga daam penelitian, setelah peneliti mengemukakan landasan teori dan
kerangka berfikir. Perlu diketahui bahwa tidak setiap penelitian harus
merumuskan hipotesis. Hipoteteis merupakan jawaban semenara terhadap rumusan
masalah penelitian, di mana rumusan masalah penelitian telah dinyatakan dalam
bentuk kalimat pertanyaan. Dikatana sementara, karena jaaban yang diberikan
baru didasarkan pada teori yang relevan, belum didasarkan pada fakta-fakta
empiris yang diperoleh melalui pengumpulan data. Jadi, hipotesis juga dapat
dinyatakan sebagai jawaban teoritis terhadap rumusan masalah penelitian, belum jawaban
yang empiris.
1. Bentuk-bentuk Hipotesis
a.
Hipotesis
deskriptif, merupakan jawaban sementara terhadap masalah deskriptif, yaitu yang
berkenan dengan variabel mandiri.
b.
Hipotesisi
komparatif, merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah komparatif.
Pada rumusan ini variabelnya sama tetapi populasi atau sampelnya yang berbeda,
atau keadaan terjadi pada waktu yang berbeda.
c.
Hipotetis
assosiatif, merupakan jawaban sementara terhadap sumusan masalah assosiatif,
yaitu yang menanyakan hubungan antara dua variabel atau lebih.
2. Paradigma Penelitian, Rumusan Masalah dan hipotesis
Paradigma penelitian, peneliti dapat menggunakan
sebagai panduan untuk merumuskan masalah, dan hipotesis penelitiannya, yang
selanjutnya dapat digunakan untuk panduan dalam pengumpulan data dan analisis.
3. Karakteristik Hipoesis Yang Baik
a.
Merupakan dugaan
terhadap keadaan variabel mandiri, perbandingan keadaan variabel pada berbagai
sampel, dan merupakan dugaan tentang hubungan antara dua variabel lebih.
b.
Dinyatakan dalam
kalimat yang jelas, sehingga tidak menimbulkan berbagai penafsiran.
c.
C. Dapat diuji
dengan data yang dikumpulkan dengan metode-metode ilmiah.
No comments:
Post a Comment