Thursday, 17 October 2013

Puisi yang dimuat koran Fajar Cirebon

Angin asing

Pernahkah mendengar katanya, melihat tulisnya, merasakan detik demi detik harinya?
Pernahkan memikirkan hatinya, hidupnya, jiwanya?
Inilah keluhnya bersandar pada dinding yang rapuh, terjebak dalam kubangan permainan lagu membelai hati hingga robek.
Pernahkah sekejap mengingatnya, memandangnya?
Pernahkah dalam terlelap doa memanggil namanya?
Inilah resahnya terkadang sendiri melihatnya asik sendiri melupakan ketika sendu mata menunggu kabar darinya. Dalam kalimat tulus nan sederhana yg slalu tulus dilafadzkan hanya Tuhan yang tau.
Pernahkah dalam kesederhanaan terselip harapan agar kehangatan selalu bersama?
Ini lah gusarnya takut selembar angin asing memasukinya.


Jendela pelangi harapan

Ketenanganku duduk didekat jendela angkutan umum ini
Terlihat jelas sepotong pelangi memenjakan mata
Tertututp secuil gumpalan awan bersih
Cerah hati ini, berharap takan tersemu
Takan terhapus!



Tirai biru 

Ketika angin berlalu dan tersenyum syahdu
Menantikan aroma kekasih datang senyum simpul
Kasih, ntah kapan
aku dapat merasakan sentuhan lembutnya kembali
sehingga perlahan-lahan semulah aroma kehangatannya
dan hujan aku terus menantinya
termangu didepan potretmu berhasil
runtuhkan titik-titik hangat bergulir
tiba-tiba bayangmu hadir,
entah siapa dibalik tirai biru yang ku tunggu
setelah perlahan ku buka, dan
dia yang termanis yang pernah ku raba wajahnya...
                                                                                  untuk Ratu dan Shanty


BINTANG EMAS
Teruntuk Rio Haryanto

Berikanlah  kado terindah untuk negrimu
Berikanlah yang terbaik karena kami mendukungmu
Karena kami bangga mempunyai anak bangsa seperti mu
Kejarlah cita-cita mu setinggi anganmu
Jalejahi jagat dengan prestasimu
Semoga akan ada tumbuh suci
Anak bangsa yang berprestasi sepertimu

Kuatkan tekad, renungkan hati dan pikiran
Renungkanlah sejenak
Bahwa sahaja kamu adalah bintang emas


                                                                                                                                                              JIWA PEMBERANI
Teruntuk Rio Haryanto

Ketika matahari terbenam
Engkau mulai membenahi diri
Istirahat di kesendirian
Ketika selesai merebah
Matahari mulai muncul
Engkau mulai membenahi diri
Memulai dengan kesendirian
Ketika memulai lalu merebah

Kapan engkau mulai dan kapan engkau selesai
Ketika matahari terbenam dan terbit
Semangatlah jiwa pemberani
Kita semua menunggu keberanianmu..
Jiwa pemberani semangatlah…

Sunday, 6 October 2013

Rumah baru itu ternyata punya rio


 Pagi terbangun gara-gara suara ayam sialan, hahhaha bangun pagi lari pagi. Tapi belum sarapan dan mandi, tak apalah yang penting sudah melek ini mata.
Si mamah menyuruhku untuk mandi dulu tapi.
”Himma mandi dulu.” Panggil mamah.
”Bentar dulu Mah mau lari pagi, sarapannya di luar aja.” Jawab Himma.
Mamahnya pun hanya tersenyum saja, melihat anaknya belum mandi tapi malah lari pagi. Pagi itu Himma libur sekolah karena ada ujian kelas 3. Mamah pun beres-beres rumah sambil menunggu anaknya pulang.
Himma dan teman-temannya yang sedang berlari santai terkejut dengan rumah baru yang disamping toko buku terbesar di kota Solo, lumayan dekat dengen rumah Himma, dengan menaiki angkot AF juga sudah sampai. Dari kejauhan terlihat lelaki yang seumuran dengannya, Himma berfikir lelaki itu mirip Rio Haryanto pembalap favoritnya.
”Himma. Siapa tuh cowo ? cakep juga.” Anna tersenyum lebar.
”Hahha mirip rio si mr.busy itu.” EstY terkejut.
”Hhahh mata ku ngak salah nih liat Rio Haryanto. Nna, tuh cowo itu Rio Haryanto.” Himma terpukau gembira.
”Ia bener itu si Rio, kita kesitu yuk.” Tak sengaja Anna dan Esti bicara bersamaan.
Himma bengong karena tak percaya yang ada dirumah itu Rio Haryanto yang sangat Himma dambakan. ” Malu ahh nanti aja ya.?” Pinta Himma kepada Anna dan Esty.
Namun Anna dan Esty hanya terdiam saja tak mendengarkan Himma bicara, mereka berdua memndangi rio dari jauh.
”Ehh ko malah liatin ka rio terus sih, aku jadi cemburu nih.” Tegas HImma sambil tertawa.
” Hahah ia maff itu Rio yang selalu kamu dambakan ya ?”. Anna tertawa ngeledek Himma.
” Uhuyy rio nie. Haahaha.” Ngeledek syamma juga.
Himma hanya tersenyum malu, di saat itu juga Himma ingin bertemu pujaan hatinya. Tapi pagi itu Himma belum mandi dan dandan cantik. Walau terlihat sudah mandi dan dandan cantik. Tetap saja syamma ngak PD. Hari itu syamma sangat senang dan nyesel juga ngak dengerin nasehat mamhnya. Padahal kalu mandi dulukan bisa langsung ketemu ka Rio. Himma berfikir sambil berjalan meninggalkan jalan itu.

~ini nih baru inget ada cerpen ini udah lama banget gue bikin ga di lanjutin :D Anna dan Esty merupakan SR yg pertama kali saya kenal :')